Prof. Dr. Mushtafa Naguim: Laa Huwiyyata Illa bil Arabiyyah

23/10/2019 | 46 kali | Berita

 

Bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, sastra, politik dan peradaban pada masa kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad dan Daulah Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol), dan memberi pengaruh yang luar biasa bagi kemajuan Eropa. Pengaruh kebudayaan Arab Islam yang berkuasa hampir seribu tahun di Spanyol dapat masuk ke Barat karena terjemahan karya-karya Islam yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Bidan kelahiran Barat serta ibu yang menyusuinya adalah kebudayaan Arab Islam.

Bagi seorang muslim, bahasa Arab adalah bagian dari kehidupannya. Seorang muslim –yang benar-benar muslim- tidak akan pernah lepas dari kitab sucinya Al-Quran dan sunnah Nabinya –shallallahu ‘alaihi wasallam- yang keduanya berbahasa Arab. Tidaklah seorang muslim shalat, berdzikir dan berdoa melainkan dia pasti akan melafazkannya dengan bahasa Arab. Apalagi jika muslim tersebut memiliki kepedulian terhadap ilmu-ilmu syar’i, maka bahasa Arab akan menjadi sangat penting baginya dalam perjalanannya menuntut ilmu tersebut.

Seorang muslim yang ingin mengkaji al-Quran dan Sunnah, tidak akan mungkin bisa memahami keduanya dengan benar kecuali jika dia memahami bahasa Arab yang dengannya al-Quran diturunkan dan dengannya pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Karenanya, sangat wajar jika para ulama Islam memberi perhatian yang besar terhadap bahasa Arab dan ilmu-ilmunya.

Dalam Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab (PINBA XII) dan Muktamar Ittihadul Mudarrisii al-Lughah al-Arabiyyah (IMLA VI) yang diselenggarakan pada Rabu-Jum’at 16-18 Oktober 2019 di Universitas Padjadjaran (UNPAD), hadir pada waktu itu Prof. Dr. Mushtafa Naguim, Rektor Universitas Qarawiyyun, Casablanca Maroko sebagai pembicara utama dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwasannya: لا هوية إلاّ بالعربية artinya “Tidak ada Identitas (Bagi Seorang Muslim) Kecuali dengan bahasa arab. Begitu ujar beliau dalam seminarnya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, berkata: “Aku memulai dengan apa yang aku sebutkan bahwa al-Quran turun dengan lisânul ‘Arab, bukan yang selainnya. Karena tidak bakal mengetahui ilmu al-Kitab seseorang yang jahil tentang luasnya lisânul ‘Arab, aspeknya yang banyak, kumpulan makna dan perbedaannya. Siapa yang mengetahuinya, niscaya lenyaplah darinya segala syubhat yang masuk kepada orang yang jahil tentangnya.” (Ar-Risâlah, hal. 50).

Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, mengatakan “Sebuah kemestian dalam menafsirkan al-Quran dan hadits untuk mengenal apa yang bisa membawa pada maksud yang diinginkan Allah dan rasul-Nya dari redaksi (keduanya) dan bagaimana perkataannya itu dipahami. Mengenal bahasa Arab yang kita diajak berbicara dengannya adalah salah satu faktor yang membantu kita memahami maksud yang diinginkan Allah dan rasul-Nya dari perkataan tersebut. Demikian juga mengenal petunjuk kata (dalâlah al alfâdzh) terhadap makna. Karena banyak penyimpangan ahli bid’ah terjadi disebabkan oleh hal ini. Mereka membawa perkataan Allah dan rasul-Nya kepada apa yang mereka dakwakan bahwa hal itu menunjukkan kepada maksud tertentu, namun urusannya tidaklah demikian adanya.” (Al-Fatâwâ, VII/116).

Selanjutnya Imam Asy-Syathibi rahimahullahu, berkata “Al-Quran turun dengan bahasa Arab seluruhnya. Maka mencari pemahamannya hanya mungkin terjadi melalui jalan ini secara khusus.” (Al-Muwâfaqât, II/64). Bukan hanya itu, bahkan para ulama Islam dahulu memandang bahwa bahasa Arab adalah syiar Islam dan kaum muslimin, dan mereka tidak suka jika seseorang membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab.

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jangan kalian mempelajari bahasa orang-orang ‘ajam (non-Arab).” (Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, I/511)..Umar pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Amma ba’du. Pelajarilah oleh kalian Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan i’rablah al-Quran karena sungguh al-Quran berbahasa Arab.” (Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, I/527). Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash pernah mendengar sekelompok orang berbicara dengan bahasa Persia, dan ia berkata, “Ada apa dengan agama Majusi setelah datangnya Hanifiyyah?!”, yaitu Islam. (Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, I/523).

Hal ini bisa dimaklumi karena bahasa adalah salah satu ciri mendasar bagi sebuah umat atau bangsa. Kita tidak memungkiri bahwa kaum muslimin terdiri berbagai macam bangsa yang memiliki bahasa yang berbeda-beda. Akan tetapi, bahasa Arab dahulu pernah menjadi bahasa umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia Islam. Minimal, bahasa-bahasa yang digunakan kaum muslimin dituliskan dengan abjad Arab seperti bahasa Melayu dan lain-lain. Hingga akhirnya datanglah masa imperialisme Barat yang secara perlahan menghapuskan bahasa Arab dan menggantikannya dengan bahasa lokal di setiap negeri atau salah satu bahasa yang dibawa oleh penjajah, seperti bahasa Inggris. Wallahu A’lam (Azam)


Share: