“Mahasiswa STIABI Ikuti Seri Kuliah di INSISTS Jakarta”

29/10/2019 | 57 kali | Berita

 

Kehadiran sains modern ke dalam dunia Islam sejak abad 19 membawa banyak persoalan epistemologis, baik disadari ataupun tidak oleh kaum muslimin. Dari tampilan fisiknya, sains modern hadir dalam bentuk teknologi yang mempermudah segala urusan rumah tangga, ekonomi, industri, sampai persenjataan. Dari penalaran yang ditawarkannya, sains modern mengklaim diri sebagai satu-satunya jalan sah yang mengantarkan manusia kepada pemahaman tentang realitas. Alam semesta dikaji, dirumuskan, bahkan direkayasa dengan memanfaatkan sumbangan sains untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pola ekonomi industri menjadikan praktik-praktik saintifik tersebut juga berorientasi pada percepatan, perkembangan, dan kemajuan.

Banyak kalangan menilai hal tersebut adalah sesuatu yang bebas nilai. Ia bisa digunakan langsung oleh siapa saja, tanpa mempertimbangkan latar belakang agama, budaya, dan kepentingan bangsa, untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemudahan bagi manusia. Mereka berbondong-bondong mempelajari sains dan teknologi lewat lembaga pendidikan, kursus, dan lainnya. Dalam batas tertentu, penalaran dan temuan sains modern tersebut juga dijadikan alat pembenaran doktrin-doktrin keagamaan oleh mereka yang hendak membuktikan kesesuaian Islam dengan semua tempat dan semua zaman. Keadaan seperti ini memperlihatkan betapa kegagapan umat Islam terhadap capaian dan perkembangan sains tak sebanding dengan kesadaran pentingnya mempelajari landasan pemikiran dari sains tersebut.

Dalam membaca fenomena tersebut, STIABI Riyadlul ‘Ulum cepat tanggap menanggapi segala bentuk perkembangan dan problematika yang ada dalam sains tersebut dengan mendelegasikan mahasiswanya untuk mengikuti seri kuliah yang diselenggarakan oleh INSISTS jakarta setiap minggunya. Bertujuan untuk mndalami wacana sains Islam yang sangat filosofis yang berakar dari pemikiran mengenai hakikat ilmu di dalam Islam. Maka ketika berbicara ilmu sains, disitu akan dibicarakan apa makna ilmu, tujuan mencari ilmu, penggolongan ilmu, makna kebenaran, tingkatan wujud (realitas), saluran-saluran ilmu, makna alam (yang satu akar kata dengan ilmu), metodologi penarikan kesimpulan, adab-adab menuntut ilmu, dan lain sebagainya. Maka proses islamisasi ilmu alam (sains) tidak lain adalah mengislamkan persoalan-persoalan di atas dengan cara meletakkannya dalam kerangka pandangan hidup Islam (Islamic Worldview).

Kuliah Seri Islamisasi Sains ini membahas semua persoalan konseptual di atas, termasuk segenap usaha mengislamkan sains modern, dengan pelbagai keunggulan pemikiran yang penting untuk diikuti sekaligus kegagalan tawaran yang mesti kita hindari. Pemateri kuliah ini, Dr. Budi Handrianto, adalah peneliti senior INSISTS dan dosen Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Setelah lulus dari jurusan Statistika IPB, Dr. Budi melanjutkan pendidikan magister dan doktoralnya di Universitas Ibn Khaldun, dan menulis disertasi tentang pemikiran sains sakral Seyyed Hossein Nasr. (AKA)


Share: